
Sumber, Cakar Elang.id ~ Takalar — Miris dan menyayat hati, itulah kata yang tepat menggambarkan nasib sejumlah siswa dan orang tua di SMPN 1 Takalar. Di tengah himpitan ekonomi, mereka dihadapkan pada kewajiban membayar uang seragam dan uang bazar yang nilainya tidak sedikit. Lebih menyedihkan lagi, beredar kabar bahwa wali kelas memberi ancaman nilai rendah kepada siswa yang belum melunasi biaya tersebut. Hal ini menimbulkan keresahan dan tekanan psikologis bagi para siswa.
Orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengaku dipaksa untuk membayar biaya seragam sekolah dan uang bazar, meskipun tidak semua mampu. “Kami disuruh bayar dengan alasan sudah disepakati komite. Tapi kalau anak tidak bayar, katanya bisa dikasih nilai rendah. Kami takut anak kami jadi korban,” ungkapnya dengan nada putus asa. 22/04/2025
Praktik ini jelas melanggar Permendikbud Nomor 40 Tahun 2012 tentang penghapusan pungutan di sekolah negeri tingkat SMP. Dalam aturan tersebut, sekolah negeri dilarang keras menarik biaya dalam bentuk apapun kepada peserta didik, termasuk biaya seragam dan kegiatan bazar yang bersifat tidak wajib. Larangan ini bertujuan menjaga asas pendidikan yang adil dan merata bagi semua kalangan masyarakat.
Sayangnya, ketentuan tersebut seolah tak berlaku di SMPN 1 Takalar. Praktik pungutan liar (pungli) terus berjalan dengan dalih partisipasi komite sekolah. Pihak sekolah belum memberikan klarifikasi resmi atas tuduhan ini. Namun, tekanan terhadap siswa yang tidak membayar menjadi bukti bahwa ada pelanggaran serius terhadap prinsip pendidikan yang seharusnya memerdekakan, bukan menindas.
Publik mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan menyelidiki kasus ini. Dunia pendidikan tidak boleh dikotori oleh praktik-praktik manipulatif yang menindas anak-anak bangsa. Pendidikan adalah hak, bukan barang dagangan. Jika ini dibiarkan, maka sekolah bukan lagi tempat menuntut ilmu, melainkan ladang pungli yang membunuh masa depan.
Kutipan dari edisi sebelumnya dari wakil kepala sekolah yang sepertinya membela wali kelasnya atas permintaan uang seragam sekolah dan uang bazar, jika tak membayar bisa berpengaruh pada nilai akhir, ucap wali kelas pada siswi tersebut, yang kini hanya bisa menangis karena orang tuanya tidak punya uang, ungkapnya. Sampai terbit edisi selanjut belum ada klarifikasi langnsung dari pihak SMPN 1 Polut dan kami memberi ruang untuk mengklarifikasi berita ini.
Redaksi : Cakar Elang.id
edisi Kedua
Bersambung.