Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,BUMNInternasionalKa-Polri, Humas PolriKemendagriKemenkesKemenkeuKementanKementerian Agama

Absensi Anita, Modem dan Data Internet Resahkan Guru Honorer, Beban Tambahan di Tengah Gaji Minim

2
Doc.

Cakar Elang.id ~ Takalar ~ Kebijakan penggunaan absensi digital melalui aplikasi Anita, ditambah keharusan menyediakan modem dan paket data internet pribadi, kini menjadi keluhan serius di kalangan guru dan tenaga honorer. Di tengah penghasilan yang serba terbatas, mereka justru dibebani pengeluaran tambahan yang dinilai tidak masuk akal. Bagi sebagian honorer, kebutuhan membeli kuota setiap bulan terasa seperti pukulan baru yang semakin memberatkan hidup mereka.

Sejumlah guru mengaku, sistem absensi berbasis online memang disebut sebagai langkah modernisasi, namun pelaksanaannya justru memunculkan keresahan. Mereka dipaksa mengikuti aturan dengan menggunakan perangkat sendiri, membeli modem, hingga memastikan jaringan internet tetap aktif setiap hari. Ironisnya, biaya operasional tersebut harus ditanggung pribadi, sementara honor yang diterima kadang tak cukup menutup kebutuhan rumah tangga. 18/05/2026

Keluhan paling tajam datang dari para tenaga honorer yang selama ini sudah berjuang dengan gaji minim. 

Mereka menilai kebijakan ini tidak berpihak pada kondisi nyata di lapangan. Harga modem yang fantastis, ditambah paket data yang terus menguras kantong, membuat sebagian honorer merasa seperti bekerja untuk menutupi biaya absensi itu sendiri. Situasi ini memicu pertanyaan, apakah sistem ini benar-benar untuk meningkatkan disiplin atau justru menambah beban pegawai kecil.

Di balik dalih digitalisasi, banyak pihak menilai kebijakan tersebut lahir tanpa mempertimbangkan rasa keadilan. Guru dan honorer diposisikan seolah harus patuh tanpa ruang protes, padahal kebutuhan dasar mereka belum sepenuhnya terpenuhi. 

Kebijakan yang mestinya memudahkan justru berubah menjadi sumber tekanan baru, terutama bagi mereka yang bertugas di wilayah dengan jaringan internet yang tidak stabil.

Kondisi ini diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang yang menghargai pengabdian, bukan menambah beban bagi guru dan honorer yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Jika keluhan ini terus diabaikan, bukan tidak mungkin semangat para pendidik akan terkikis oleh kebijakan yang dianggap memberatkan dan jauh dari rasa empati.

Editor : Arsyad Sijaya