
Kami masih di sini,
di tanah yang kau klaim sejahtera,
padahal hujan janji sudah lama berhenti,
dan mata kami kering oleh kebohongan yang menetes tiap pidato.
Kau duduk di kursi empuk hasil keringat kami,
tapi matamu sibuk menatap layar kuasa,
sementara rakyatmu—
mengunyah debu, meneguk sabar, dan menelan kecewa.
Istana bagimu surga kecil,
bagi kami, dinding besi yang menutup suara.
Kau memerintah seperti dewa,
tapi lupa: doa orang miskin lebih tajam dari senjata.
Kami bukan angka di laporan,
bukan statistik di meja menteri.
Kami darah, kami napas, kami luka yang tak kau obati.
Dan bila diam kami tak lagi berarti,
maka teriaklah bumi memanggil: cukup sudah!
Pemerintah tanpa hati adalah bencana tanpa sirine.
Dan jangan salah, wahai penguasa,
rakyat yang kau abaikan hari ini—
besok bisa menjadi badai yang menumbangkan istana.
Jannaya, 4 Oktober 25