
Cakar Elang.id ~ Takalar, 2025 – Januari 27 – Penjara seharusnya menjadi tempat pembinaan, tetapi di Lapas Takalar justru terjadi ironi yang mencederai keadilan. Di balik tembok tebal penjara, seorang figur yang disebut “Mister X” diduga memegang kendali atas sel merah, ruangan yang dikenal sebagai pusat kekuasaan tak kasatmata. Ironisnya, nama “Mister X” lebih sering terdengar sebagai simbol penindasan, bukan pembinaan.
Mister X, yang diduga memiliki pengaruh besar di lapas tersebut, dituding mengendalikan praktik pungutan liar (pungli) terhadap warga binaan. Melalui jaringan bawahannya, ia memaksa para tahanan untuk membayar sejumlah uang demi mendapatkan “keistimewaan”, mulai dari akses ke fasilitas yang layak hingga perlakuan manusiawi. Praktik ini tidak hanya mencoreng nama institusi, tetapi juga menambah penderitaan warga binaan yang seharusnya dilindungi hak-haknya.
Beberapa narasumber menyebutkan bahwa Mister X mendapat julukan “Pahlawan Rupiah” karena perannya dalam mengatur aliran uang ilegal di dalam lapas. Dengan kekuasaan yang seolah tanpa batas, ia mampu menjadikan sel merah sebagai pusat “ekonomi bayangan”. Para warga binaan yang tidak mampu membayar dikabarkan dipaksa menerima kondisi yang tidak layak, seperti sel yang penuh sesak dan minim akses kebutuhan dasar, termasuk rokok di larang masuk, ujar mantan napi,
Tragisnya, meski praktik ini telah menjadi rahasia umum di antara penghuni lapas dan beberapa petugas, hingga kini belum ada tindakan tegas dari pihak berwenang. Banyak yang menduga bahwa kekuasaan Mister X didukung oleh oknum-oknum tertentu yang ikut menikmati hasil dari praktik kotor ini. Kondisi ini membuat warga binaan hanya bisa pasrah dan bertahan dalam ketidakadilan yang sistemik.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari Kalapas, pemerintah dan aparat hukum untuk mengungkap kasus ini. Lapas Takalar seharusnya menjadi tempat rehabilitasi, bukan ladang subur bagi korupsi dan penindasan. Harapan besar agar keadilan benar-benar ditegakkan terus menggema, demi mewujudkan lapas yang benar-benar mencerminkan fungsi pembinaan, bukan sekadar tempat memupuk kekuasaan bayangan.
Walau Kalapas, Mansyur sering menyempatkan diri untuk memberi wejangan dan nasehat bijak kepada sipir lembaga, begitu juga nasehat bijak terhadap warga binaan Lapas Kelas ll Takalar, ujarnya.
(Arsyad Sijaya)