Berita NasionalKriminalOlahragaOtomotifPolitik

Lebih Kejam Mister X Lapas Dibandingkan Mister X Pendidikan

14
Doc. Gambar ilustrasi

Cakar Elang.id ~ Takalar – Dua sosok dengan julukan “Mister X” dari latar belakang berbeda menjadi sorotan publik di Takalar. Satu berasal dari lingkungan pendidikan, sementara yang lain beroperasi di balik jeruji penjara. Meski berbeda, keduanya memiliki kesamaan: dugaan tindak kejahatan yang mencoreng kepercayaan publik. Namun, Mister X dari Lapas disebut lebih kejam dan sadis.

Mister X di Dinas Pendidikan: Penjahat Berdasi?
Beberapa bulan lalu, Mister X dari Dinas Pendidikan Takalar viral akibat dugaan meminta “jatah” Dana BOS sebesar 10% dari seluruh SD dan SMP di kabupaten tersebut. Praktik korupsi ini, jika benar, merupakan kejahatan yang langsung menghantam dunia pendidikan, menciptakan kesenjangan bagi siswa dan sekolah yang sangat membutuhkan dana tersebut. Ironisnya, meski informasi ini menjadi pemberitaan luas, Aparat Penegak Hukum (APH) terlihat pasif, seolah menutup mata.

Mister X di Lapas: Simbol Penindasan di Balik Jeruji
Sementara itu, Mister X dari Lapas Takalar dianggap lebih sadis. Penjara yang seharusnya menjadi tempat pembinaan berubah menjadi pusat praktik pungutan liar (pungli) yang merampas hak warga binaan. Mister X diduga mengendalikan sel merah, tempat di mana segala “keistimewaan” hanya bisa diperoleh dengan uang. Dari akses ke fasilitas dasar hingga perlakuan manusiawi, semua hanya diberikan kepada mereka yang mampu membayar.

“Pahlawan Rupiah” di Tengah Ketidakadilan
Julukan “Pahlawan Rupiah” disematkan kepada Mister X karena kekuasaannya mengatur aliran uang ilegal di dalam lapas. Sel merah yang ia kendalikan disebut sebagai pusat “ekonomi bayangan”, tempat di mana ketidakadilan merajalela. Mantan napi mengungkapkan bahwa mereka yang tidak mampu membayar harus menerima perlakuan buruk, dari sel yang penuh sesak hingga minimnya akses kebutuhan dasar seperti makanan layak. Bahkan, akses terhadap rokok pun dilarang tanpa izin tertentu.

Korban Kejahatan Struktural
Para narasumber yang menjadi korban praktik ini menyebutkan bahwa kondisi di Lapas Takalar benar-benar jauh dari kata manusiawi. Hak-hak dasar seperti kesehatan, kebersihan, dan keamanan kerap diabaikan demi memaksa warga binaan tunduk pada sistem pungli yang dikendalikan Mister X. Hal ini semakin menegaskan bahwa praktik kekuasaan di lapas telah mencederai esensi keadilan dan pembinaan.

APH dan Hilangnya Keberanian untuk Bertindak
Sama seperti kasus Mister X dari Dinas Pendidikan, dugaan praktik kejahatan yang dilakukan Mister X di Lapas Takalar juga belum tersentuh oleh hukum. Meskipun suara publik terus menggema, APH seolah kehilangan keberanian untuk menindak tegas kedua sosok ini. Hal ini menciptakan keprihatinan mendalam tentang bagaimana hukum ditegakkan dan siapa yang sebenarnya mendapatkan perlindungan.

Harapan untuk Takalar yang Lebih Baik
Kasus Mister X dari Lapas dan Dinas Pendidikan menjadi cermin dari betapa mendesaknya perbaikan dalam sistem birokrasi dan penegakan hukum di Takalar. Masyarakat berharap keadilan dapat ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga tidak ada lagi kekuasaan gelap yang menindas mereka yang lemah. Warga Takalar berhak atas lingkungan pendidikan dan pembinaan yang bersih, adil, dan bebas korupsi.  (Tim)

“Panrongrongna takalar”