Berita NasionalKriminalpendidikPendidikanPolitik

Cinta Masih Berbunga: Kisah AS & HU

22

Cerpen :

Doc.

Cinta Masih Berbunga: Kisah AS & HU

Di sebuah sudut desa yang tenang, AS masih menyimpan rapi rasa cintanya pada HU—wanita yang dulu mengisi harinya dengan tawa dan cerita sederhana. HU, seorang janda dengan lima anak, tak pernah merasa kekurangan kasih sayang saat bersama AS. Meski dunia memandang mereka tak sepadan, cinta di antara mereka tumbuh tanpa pamrih. AS, pria bersahaja yang tak banyak bicara, justru menunjukkan cintanya lewat perhatian-perhatian kecil yang tak pernah putus, dari menjemput anak-anak HU di sekolah, hingga menyelipkan doa dalam tiap salatnya untuk perempuan yang ia cintai diam-diam.

Namun takdir seolah ingin menguji ketulusan. Keluarga, stigma, dan masa lalu yang rumit membuat hubungan mereka perlahan menjauh. HU, yang terlalu banyak menanggung luka dari kisah hidupnya, akhirnya memutuskan untuk melangkah sendiri. Ia memilih melepaskan AS, bukan karena cinta itu mati, tapi karena takut masa depan anak-anaknya terganggu oleh bisik-bisik orang. 

Ini AS tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum, menyimpan luka dalam diam, dan tetap menyayangi HU dari kejauhan.

Hari-hari berlalu, tahun pun berganti, namun cinta AS belum layu. Setiap kali ia melewati rumah tua tempat HU pernah tinggal, hatinya kembali hangat oleh kenangan. Ia tak menyesali apa pun, bahkan merasa bersyukur pernah mengenal HU. “Cinta tidak harus memiliki,” gumamnya, “tapi cinta yang tulus akan tetap hidup, bahkan setelah segalanya kandas.” Orang-orang mungkin menganggapnya bodoh, mencintai seorang janda dengan lima anak yang telah pergi, tapi baginya, itulah cinta yang paling jujur.

HU kini hidup mandiri, membesarkan anak-anaknya dengan kerja keras dan air mata. Dalam hatinya, ia pun tahu AS masih mencintainya. Tapi ia memilih tidak membuka kembali pintu itu. “Biar dia bahagia tanpa beban,” katanya dalam hati. Tapi setiap kali ia melihat langit sore yang tenang, ia teringat senyum tulus AS—dan hatinya pun ikut tenang, karena ia tahu, ada cinta yang masih mendoakan diam-diam.

Cinta mereka tidak berakhir bahagia seperti dalam dongeng, tapi kisah itu tetap berbunga dalam hati masing-masing. Kadang yang tulus memang tidak sampai, tapi justru karena itu, ia abadi. AS dan HU—dua jiwa yang pernah saling meneduhkan, walau akhirnya berjalan sendiri. Dan hingga kini, AS masih menanam bunga di hatinya, bunga yang tak pernah layu, atas nama cinta yang tak meminta kembali. 

Penulis : (Arsyad Sijaya)