
“Negeri yang Tak Didengar”
Di bawah langit yang mulai retak oleh janji,
suara rakyat tenggelam di antara tepuk tangan pejabat.
Mereka bicara tentang kemakmuran,
namun lupa menengok sawah yang kering dan perut yang lapar.
Wahai penguasa,
takhta itu bukan singgasana megah untuk bermegah,
melainkan titipan untuk menegakkan keadilan
di antara mereka yang hanya punya harapan.
Jangan biarkan kebijakan lahir dari bisikan serakah,
sementara jeritan rakyat hanya jadi gema di tembok istana.
Sebab, kekuasaan tanpa nurani
adalah api yang membakar rumah sendiri.
Pemerintah yang bijak adalah telinga, bukan hanya lidah;
mendengar lebih banyak dari yang ia ucapkan.
Karena di balik suara kecil rakyat jelata,
tersimpan kebenaran yang lebih murni dari rapat dan pidato.
Ingatlah—
kekuasaan datang bersama waktu,
dan waktu selalu mengantarkan pada hisab.
Sebelum rakyat menuntut, langit akan lebih dulu bersuara:
“Dimana keadilan yang dulu kau janjikan?”
Jannaya 4 Oktober 2025