
Cakar Elang.id ~ Takalar – Dunia pendidikan di Kabupaten Takalar kembali tercoreng. Seorang guru di SMA Negeri 3 Takalar tega menampar muridnya, yang ternyata adalah ponakan Bupati Takalar, sebanyak tiga kali di dalam kelas pada Rabu, 27 Agustus. Tindakan kasar ini membuat publik terhenyak, lantaran peristiwa itu justru terjadi saat korban lewat di depan tempat pelaku pemukulan mengajar di ruang kelas, namun tidak menggambarkan seorang guru yang menjadikan ruang kelas sebagai tempat belajar yang seharusnya menjadi tempat mendidik dengan penuh kesabaran dan teladan.
Insiden memilukan ini membuat korban kini terbaring di rumahnya dengan kondisi trauma berat. Menurut keterangan keluarga, sang murid enggan kembali ke sekolah lantaran masih ketakutan dan syok dengan perlakuan gurunya. “Anak kami tidak mau lagi masuk sekolah. Dia selalu menangis kalau kami ajak bicara tentang kejadian itu,” ungkap salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar.
Peristiwa itu terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung. Tanpa alasan yang jelas, sang guru diduga sering kehilangan kendali emosi dan bukan kali pertama, menampar wajah murid tersebut tiga kali di hadapan teman-teman sekelasnya. Suasana kelas yang awalnya tenang sontak berubah mencekam, termasuk guru lain yang melihat langsung kejadiannya meninggalkan luka batin mendalam bagi korban maupun saksi yang menyaksikan.
Pihak sekolah pun ketahui masalah pemukulan guru di kelas dan berusaha menenangkan siswanya, namun ironis kepala sekolah SMA 3, mengatakan tidak usah sampaikan kepada orang tuamu kata saksi mata. Kepala SMA 3 Takalar saat dihubungi melalui via telepon pura pura tidak tahu kejadiannya,
Kepala sekolah juga menyayangkan kejadian ini dan berjanji akan menindaklanjuti kasus tersebut. “Kami tentu tidak membenarkan segala bentuk kekerasan di ruang kelas. Guru harusnya mendidik, bukan melukai. Kami akan melakukan evaluasi dan menunggu arahan dari dinas,” ujarnya kepada awak media.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar dan Dinas Provinsi juga diminta segera turun tangan. Masyarakat mendesak adanya sanksi tegas agar peristiwa serupa tidak kembali terulang. “Ini peringatan keras bagi dunia pendidikan kita. Jangan sampai anak-anak dididik dengan cara kekerasan, karena sekolah bukan tempat menebar trauma, melainkan membangun masa depan,” tegas salah seorang aktivis pendidikan lokal.
Redaksi : Cakar Elang.id
Penulis : Tim
Editor : Arsyad Sijaya