Otomotif

Bupati Takalar Diduga “Mutilasi Media”: Bisikan Surgawi yang Mematikan Nafas Pers Lokal

12
Doc.

Cakar Elang.id ~ Takalar kembali diguncang isu yang menyesakkan dada. Sejumlah wartawan lokal di kabupaten ini mengeluhkan terhentinya aliran informasi dan dukungan dari pemerintah daerah. Semua bermula dari “bisikan surgawi” yang disebut-sebut menjadi alasan Bupati lebih memilih menggandeng media besar, sembari menyingkirkan media lokal yang selama ini setia mengawal pembangunan dan menyuarakan suara rakyat.

Fenomena ini disebut para jurnalis sebagai “mutilasi media”, karena bukan sekadar mengurangi ruang publikasi, tetapi juga memangkas habis peran dan keberlangsungan hidup media kecil. Wartawan lokal yang bergantung pada kerja-kerja jurnalistik kini seperti dipaksa mati perlahan. Mereka kehilangan ruang, kehilangan akses, bahkan kehilangan napas hidup dari profesi yang telah lama mereka geluti.

assalamu alaikum wrwb, tabe dengan hormat disampaikan kepada bpk/ibu media mitra pemda takalar bahwa untuk saat inj kerjasama kami hentikan dlu sampai bulan september dan akan dilanjutkan setelah perubahan anggaran, harap maklum dan terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya 🙏🙏chat kadis Kominfo.

Ironisnya, media lokal yang dianggap tidak lagi memiliki nilai oleh penguasa, justru selama ini berfungsi sebagai corong aspirasi masyarakat pedesaan. Dari isu pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik, semua kerap lebih dulu diangkat oleh media kecil sebelum akhirnya ditangkap oleh media arus utama. Kini, suara itu dipaksa bungkam, dikunci rapat dengan dalih kebijakan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah ini bentuk pembenaran dari “bisikan surgawi” yang katanya demi kebaikan? Ataukah sekadar dalih untuk memonopoli informasi agar lebih mudah dikendalikan? Di balik semua itu, wartawan lokal hanya bisa gigit jari, meratapi nasib, dan berjuang mempertahankan idealisme di tengah keterbatasan.

Yang pasti, luka ini terasa begitu miris. Sebuah kabupaten yang mestinya membanggakan keberagaman media, justru kini berubah menjadi ladang kering tanpa suara-suara kecil yang jujur. Bupati boleh bersembunyi di balik narasi surgawi, namun sejarah akan mencatat bagaimana kehidupan pers lokal di Takalar dipotong tanpa ampun, dan para jurnalisnya dibiarkan mati perlahan.

Redaksi : www.cakarelang.id

Editor.    : Arsyad Sijaya