
Cakar Elang.id ~ Takalar ~ (10) Sepuluh warga binaan pemasyarakatan (WBP) menerima remisi akhir tahun, sebuah hak yang diberikan negara kepada mereka yang telah menunjukkan perubahan perilaku, kedisiplinan, serta kesungguhan mengikuti pembinaan selama menjalani masa pidana. Momen tersebut menjadi penutup tahun yang penuh makna, tidak hanya bagi warga binaan, tetapi juga bagi seluruh jajaran Lapas Takalar.
Remisi yang diberikan bukan sekadar pengurangan masa hukuman, melainkan simbol harapan dan pengakuan atas proses pembinaan yang telah dijalani dengan sungguh-sungguh. Wajah-wajah yang semula tegang berubah menjadi penuh emosi saat nama-nama penerima remisi dibacakan. Di antara mereka, ada yang menunduk menahan air mata, ada pula yang memeluk sesama warga binaan, seolah tak percaya bahwa secercah cahaya itu kini hadir di depan mata.
Kepala Lapas Takalar, Andi Mansur, dalam sambutannya menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Ia menegaskan bahwa remisi adalah bentuk kepercayaan negara kepada warga binaan yang mau berubah dan memperbaiki diri. “Remisi ini bukan hadiah semata, tapi hasil dari proses panjang—dari kedisiplinan, ketaatan pada aturan, hingga kesungguhan mengikuti pembinaan. Ini adalah bukti bahwa kalian mampu menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya dengan nada penuh empati.
Kata-kata tersebut sontak membuat sepuluh warga binaan tak mampu menahan tangis. Sedih mengingat masa lalu, senang karena usaha mereka dihargai, dan bahagia karena harapan untuk kembali berkumpul bersama keluarga semakin dekat. Air mata yang jatuh menjadi saksi betapa remisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hitungan hari pengurangan masa pidana.
Momentum akhir tahun ini pun menjadi pengingat bahwa Lapas Takalar bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan dan pemulihan harapan. Dengan remisi ini, diharapkan para warga binaan semakin termotivasi untuk terus berubah, memperbaiki diri, dan kelak kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab, membawa cerita baru tentang penyesalan, perjuangan, dan harapan yang tumbuh di balik jeruji.
Editor : Arsyad Sijaya