
Cakar Elang.id ~ Takalar — Pertemuan kepala desa se-Kabupaten Takalar yang digelar pada Kamis di Ruang Rapat Kantor Bupati Takalar, berlangsung hangat namun meninggalkan sorotan tajam dari para pelaku media lokal yang dibungkam. Di tengah agenda resmi yang padat, keluhan soal minimnya ruang bagi media lokal kembali mengemuka dan mencuri perhatian publik. Para jurnalis yang hadir merasa kehadiran mereka seolah tidak dihiraukan.
Di luar ruang Rapat, sejumlah awak media mengungkapkan kekecewaannya. Mereka menilai pola komunikasi pemerintahan di era kepemimpinan FDM kian meruncing dan dianggap tidak memberi ruang bagi ratusan media lokal untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi bagi transparansi informasi daerah tidak seperti waktu mau Pilkada. Suasana ini membuat banyak media daerah merasa tersisih dan tidak dihargai.
Menurut suara-suara yang berkembang, media lokal justru seperti “dikandangkan” dan berjalan tanpa ruang kolaborasi. Para pelaku media mengibaratkan kondisi ini sebagai bentuk “kebiri kreativitas”, sebab akses informasi dan ruang publikasi hanya berfokus pada satu media tertentu. Hal ini memicu pertanyaan besar di kalangan jurnalis Takalar mengenai keadilan informasi dan keberpihakan pemerintah terhadap keberagaman media.
Kekecewaan itu semakin terasa karena momen besar seperti pertemuan kades se-kabupaten, yang seharusnya menjadi momentum publikasi besar-besaran, justru meninggalkan jejak pahit bagi sebagian besar media lokal. Banyak jurnalis yang hadir mengaku hanya bisa gigit jari melihat bagaimana ruang liputan terasa sangat terbatas dan eksklusif.
Melalui berbagai kanal komunikasi, sejumlah pegiat media berharap pemerintah daerah membuka mata. Mereka menegaskan bahwa media lokal adalah garda terdepan penyampai informasi dan kontrol sosial. Jika ruang mereka dipersempit, maka transparansi publik otomatis tereduksi. Mereka menanti perubahan arah kebijakan komunikasi publik yang lebih inklusif, terbuka, dan menghargai seluruh media, tanpa pengecualian. (***)
Editor : Arsyad Sijaya