Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,BUMNInternasionalKa-Polri, Humas PolriKemenkeuKementanKementerian AgamaKesehatanKriminalMenkumhamMenteri Kelautan

Usai Pilkada, Media Lokal Ditinggal: Bupati Terpilih FDM Tutup Mata, Veteran Pers Takalar Terabaikan

13
Doc.

Cakar Elang.id ~ Takalar ~ Pasca hiruk-pikuk Pilkada yang telah usai, ada sunyi panjang yang kini dirasakan media lokal di Kabupaten Takalar. Media yang selama ini menjadi saksi, pengawal, sekaligus penyambung lidah rakyat justru seolah tersingkir dari ingatan kekuasaan. Hingga hari ini, tak satu pun media lokal tercatat dalam “rekening perhatian” Bupati Terpilih FDM. Padahal, di masa kampanye, media lokal berdiri di garis depan, memberitakan, mengedukasi, dan menjaga suhu demokrasi tetap waras di Butta Panrannuangku.

Ironisnya, setelah kursi kekuasaan diraih, jerih payah itu seakan menguap tanpa jejak. Media lokal yang berkarya dan bertahan dengan segala keterbatasan kini hanya bisa menggenggam kecewa. Hak untuk dihargai, diakui, bahkan sekadar diajak duduk berdiskusi, terasa begitu mahal. Sikap abai ini memunculkan pertanyaan besar: apakah media lokal hanya dibutuhkan saat kekuasaan belum digenggam, lalu dilupakan setelah kemenangan dirayakan?

Tim veteran media lokal Takalar mengaku telah menempuh jalur resmi dan beretika. Surat permohonan audiensi telah dilayangkan kepada pihak pemerintah daerah, dengan harapan adanya ruang dialog yang sehat dan bermartabat. Namun harapan itu hingga kini masih tergantung di udara. Tak ada kepastian, tak ada jadwal, apalagi respons positif dari Bupati Terpilih HFDM. Yang tersisa hanyalah penantian yang kian melelahkan.

Lebih menyakitkan lagi, janji manis hanya berhenti di meja Kabag Protokoler. Janji yang berulang kali diucapkan, namun tak pernah menjelma menjadi tindakan nyata. Waktu berlalu, pesan tak kunjung berbalas, dan audiensi yang dijanjikan hanya menjadi bayang-bayang kosong. Bagi media lokal, ini bukan sekadar soal pertemuan, melainkan soal penghargaan terhadap profesi dan pengakuan atas peran yang telah dijalankan dengan setia.

Media lokal bukan pengemis perhatian, bukan pula pengganggu kekuasaan. Media lokal adalah pilar demokrasi di daerah, penjaga nurani publik, dan saksi sejarah pembangunan. Mengabaikan media lokal sama artinya dengan menutup mata terhadap suara rakyat sendiri. Bupati Terpilih HFDM seharusnya memahami, kekuasaan yang besar lahir dari dukungan banyak pihak, termasuk media lokal yang telah lama berkarya dan berjuang di tanahnya sendiri—Butta Panrannuangku, Kabupaten Takalar.

Editor : Arsyad Sijaya