
Cakar Elang.id ~ Gowa ~ Suasana miris menyelimuti warga sekitar Rumah Sakit Talia Irham di Panciro setelah sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) nekat menutup akses masuk ke fasilitas kesehatan tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Rabu malam, 15 April 2026 sekitar pukul 22.00 WITA itu sontak menimbulkan keresahan, terutama bagi warga yang membutuhkan layanan medis. Aksi tersebut dinilai bukan lagi bentuk aspirasi, melainkan tindakan premanisme yang merugikan masyarakat luas.
Hasil penelusuran tim investigasi media ini mengungkap bahwa kelompok tersebut hanya terdiri dari segelintir orang yang sebelumnya sempat mempengaruhi sebagian warga untuk ikut menutup akses jalan. Namun, tidak semua masyarakat mendukung aksi tersebut. Beberapa warga mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah adanya keributan pada malam hari. “Kami tahu setelah ada riuh-riuh sekitar jam sepuluh malam, tiba-tiba akses sudah ditutup,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Permasalahan ini disebut-sebut berawal dari kondisi jalan rusak di sekitar lingkungan warga. Pihak manajemen Rumah Sakit Talia Irham saat ditemui menjelaskan bahwa sekitar sepekan sebelumnya, mereka telah didatangi oleh beberapa orang yang mengaku sebagai perwakilan LSM.
Dalam pertemuan tersebut, telah disepakati secara tertulis bahwa pihak manajemen rumah sakit akan memperbaiki jalan yang dimaksud sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Namun ironisnya, kesepakatan yang telah dibuat justru berubah dan diabaikan.
Dalam waktu singkat, muncul tuntutan tambahan di luar perjanjian awal yang dinilai memberatkan pihak rumah sakit. Puncaknya terjadi pada Rabu malam ketika tiga pintu akses menuju rumah sakit ditutup secara sepihak oleh kelompok tersebut. Pihak manajemen RS Talia sudah berjanji akan perbaiki jalan hanya saja perlu di pahami karena proyek sementara berjalan dan pihak manajemen tetap punya niat dan itikad baik untuk masyarakat.
Tindakan ini tidak hanya menghambat aktivitas rumah sakit, tetapi juga berpotensi membahayakan pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Pemilik rumah sakit mengaku heran atas sikap sebagian pihak yang justru mempersulit keberadaan fasilitas kesehatan di wilayah mereka.
“Seharusnya warga bersyukur dengan adanya rumah sakit di daerah ini,” ujarnya dengan nada kecewa. Sementara itu, seorang warga lainnya mengungkapkan rasa muaknya terhadap tindakan kelompok tersebut. “Mereka cuma bikin onar di kampung, tidak ada manfaatnya,” tuturnya lirih, mencerminkan kekecewaan yang mendalam atas situasi yang terjadi.
Editor : Arsyad Sijaya