Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,KriminalOlahragaOtomotifUncategorized

Kemunafikan IPMIL yang Berbungkus Etika Akademik : Kebenaran yang Disembunyikan

51
Doc.

Kemunafikan IPMIL yang Berbungkus Etika Akademik : Kebenaran yang Disembunyikan

Makassar, Jum’at 25 Juli 2025 Di tengah luka yang belum sembuh dan proses hukum yang berjalan lamban, masyarakat dikejutkan dengan munculnya narasi dari organisasi IPMIL (Ikatan Pemuda Mahasiswa Indonesia Luwu) yang mencoba membalikkan realitas. Dalam pernyataan publik yang mereka sebarkan, IPMIL memosisikan diri seolah-olah sebagai pihak yang terzalimi, padahal bukti-bukti di lapangan menunjukkan adanya tindakan kekerasan brutal yang diduga kuat berasal dari kelompok mereka. Di tengah klaim menjunjung tinggi etika akademik, isi dari pernyataan tersebut justru mencerminkan sikap tidak konsisten, bahkan terkesan manipulatif. Pernyataan yang semestinya berlandaskan pada data dan integritas intelektual malah dipenuhi narasi sepihak yang melemahkan kepercayaan publik. Pernyataan resmi yang baru-baru ini mereka rilis bukan hanya menyimpang dari fakta, tetapi juga mengaburkan realitas dengan narasi yang terkesan direkayasa.

KRONOLOGI PERMASALAHAN :

  • 2 Juli 2025
    Sore hari di hari Rabu, 2 Juli 2025, sekelompok mahasiswa dan OTK (Orang Tak Dikenal) yang tergabung dalam organisasi IPMIL (Ikatan Pemuda Mahasiswa Indonesia Luwu) berjumlah lebih dari 50 orang melakukan penyerangan terhadap sekelompok mahasiswa berjumlah sekitar 10 orang yang tengah duduk santai di salah satu sudut Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Alhasil dari penyerangan tersebut salah satu mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang bernama Dayat asal Gowa-Makassar mengalami luka serius akibat tikaman di tangan, perut, dan kepala. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi dengan total 53 jahitan.
  • 3 Juli 2025 (dini hari, sekitar pukul 01.00 WITA)
    Pihak keluarga korban, didampingi kuasa hukum, resmi melaporkan peristiwa penikaman ini ke Polrestabes Makassar.
  • 9 Juli 2025
    Akibat lambannya penanganan kasus, sejumlah elemen pemuda dan mahasiswa Makassar melakukan aksi demonstrasi solidaritas di depan Polrestabes Makassar. Aksi ini bertujuan mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku penikaman dan menindaklanjuti proses hukum yang mandek.
  • 15 Juli 2025
    Kekerasan kembali terjadi. Seorang mahasiswa asal sekitar Makassar yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar bernama karlo menjadi korban penikaman di bagian perut, diduga dilakukan oleh oknum mahasiswa yang tergabung dalam IPMIL.
  • 24 Juli 2025
    Diduga akibat tidak adanya penangkapan pelaku oleh kepolisian. Berdasarkan informasi yang beredar, sebagai bentuk protes dan upaya mencari keadilan, sejumlah pemuda dan mahasiswa Makassar dan sekitarnya melakukan penyisiran di berbagai kampus untuk mencari para pelaku penikaman yang teridentifikasi berasal dari organisasi IPMIL.

Berdasarkan kronologi permasalahan tersebut sudah seharusnya IPMIL bertanggungjawab bukan hanya pada tindakan-tindakan kekerasan yang mereka lakukan, namun juga pada kata-kata yang mereka sebarkan, serta pada kenyataan yang mereka bangun.

Kota Makassar telah lama dikenal sebagai tanah yang ramah, terbuka, dan penuh toleransi. Warga asli Makassar hidup berdampingan dengan berbagai suku, agama, dan kelompok masyarakat dari seluruh penjuru nusantara. Keragaman ini bukan hanya diterima, tapi dirawat—menjadi identitas yang membanggakan sekaligus bukti bahwa masyarakat Makassar menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan.

Namun, di tengah wajah keramahan itu, nampaknya ada upaya menyalahartikan sikap terbuka tersebut sebagai kelemahan. Kejadian penikaman yang melibatkan oknum dari organisasi IPMIL menjadi contoh nyata bagaimana rasa hormat dan keterbukaan warga Makassar justru dibalas dengan kekerasan. Hal ini mencederai bukan hanya fisik para korban, tapi juga harga diri warga yang selama ini menjunjung kedamaian. Kami ingin menegaskan: keramahan bukan berarti lemah, dan keterbukaan bukan berarti kami tak akan bersuara. Warga Makassar menerima siapa pun yang datang dengan niat baik, tapi tidak akan tinggal diam ketika kekerasan dipelihara dan keadilan diabaikan. Kami menginginkan keadilan, bukan permusuhan. Tapi jika tindakan brutal terus terjadi, jangan salahkan bila warga Makassar bersatu mempertahankan kehormatan kotanya. Karena sejatinya “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”.

Di tengah luka yang belum sembuh dan amarah yang coba diredam, warga Makassar menaruh satu harapan besar kepada pihak kepolisian: tegakkan keadilan dan segera tangkap pelaku penikaman. Masyarakat percaya bahwa aparat kepolisian masih memegang komitmen untuk melindungi masyarakat dan menjaga ketertiban. Namun, kepercayaan itu diuji saat pelaku penikaman belum juga ditangkap, meskipun identitas dan dugaan keterlibatannya sudah mengemuka. Bagi warga, diamnya hukum adalah ancaman, dan lambannya penindakan adalah luka kedua setelah darah yang sudah tertumpah. Ini bukan hanya harapan dan permintaan namun ini adalah panggilan nurani kepada penegak hukum. Bahwa dalam setiap lambatnya langkah hukum, ada jiwa yang merasa diabaikan. Dan dalam setiap tindakan cepat dan tegas dari polisi, ada harapan yang kembali tumbuh bahwa negara ini masih berpihak pada kebenaran dan keadilan. (*)