
Cakar Elang.id ~ Takalar — Di tengah semangat membara para Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan—Gowa, Jeneponto, dan Takalar jika di bandingkan ada satu pemandangan yang tak bisa ditutupi kamera: kondisi memilukan para anggota Paskibraka dari Kabupaten Takalar. Saat latihan digelar, sorotan kamera justru menampakkan kontras mencolok antara semangat dan kondisi penampilan fisik.
Paskibraka Takalar tampil dengan perlengkapan seadanya, sepatu usang, dan seragam yang tampak lusuh—berbeda jauh dengan rekan-rekan mereka dari Gowa dan Jeneponto yang tampil rapi, gagah, dan seragam yang baru mengilap.
Sungguh ironis, semangat anak-anak muda dari Takalar tak kalah sedikit pun. Mereka tetap berdiri tegak, berbaris disiplin, dan berlatih keras seperti halnya Paskibraka dari dua kabupaten lain.
Namun, semangat itu seolah dipinggirkan oleh ketimpangan fasilitas dan perhatian dari pemerintah daerah. Bagaimana mungkin anak-anak yang disiapkan untuk momen sakral kenegaraan ini dibiarkan tampil dalam keadaan yang menyayat hati? Bukankah mereka adalah wajah masa depan bangsa?
Sementara Gowa datang dengan tim yang seragam dari kepala hingga kaki—kompak, baru, dan terkoordinasi—dan Jeneponto tak kalah cemerlang dengan fasilitas pendukung lengkap, Takalar justru tampil seperti anak tiri yang ditinggal zaman. Ada anggota Paskibraka yang mengaku harus meminjam sepatu, bahkan menyetrika sendiri seragam yang mulai kusam karena tidak disediakan pengganti oleh dinas terkait. Ini bukan sekadar soal estetika, tapi soal penghargaan terhadap jerih payah dan semangat anak bangsa.
Pemandangan memilukan ini bukan hanya memalukan, tapi juga menyedihkan. Bagaimana mungkin pemerintah daerah bisa menutup mata terhadap kebutuhan dasar peserta Paskibraka? Di saat momen HUT RI semakin dekat, seharusnya perhatian dan dukungan menjadi prioritas. Jangan biarkan anak-anak kita kehilangan rasa bangga hanya karena ketidakadilan dalam perlakuan dan pendanaan. Ini bukan soal “tidak ada anggaran”, ini soal kemauan dan empati.
Kondisi Paskibraka Takalar harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait. Jangan sampai momentum sakral kemerdekaan dirusak oleh potret ketimpangan yang nyata di depan mata. Anak-anak muda ini berhak mendapat perlakuan yang setara, berhak merasa dihargai, dan berhak tampil dengan penuh kebanggaan—bukan dengan rasa malu karena fasilitas yang tak layak. Jika Takalar dibiarkan seperti ini, maka kita semua patut bertanya: di mana letak keadilan pembangunan dan perhatian negara untuk anak-anaknya?
Jika Anda ingin memasukkan kutipan langsung dari narasumber (misalnya pelatih atau siswa Paskibraka), atau menyertakan data resmi (seperti jumlah anggota, anggaran, dll), saya bisa bantu menyisipkannya.
yang cukup keras dan bernada miris, seperti permintaan Anda. Anda bisa mengedit bagian tertentu untuk menyesuaikan konteks lokal atau data yang lebih spesifik.
Redaksi : Cakar Elang.id
Penulis : (Redaksi)
Editor : Arsyad Sijaya