Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,BUMNKemenkeuKriminalOlahragaOtomotif

Wifikita: Jaringan Rakyat yang Justru Menyulitkan Warga Jaringan internet Wifikita, yang awalnya dielu-elukan 

44
Doc.

Cakar Elang.id ~ Gowa – Takalar ~ Sebagai solusi konektivitas murah untuk masyarakat desa, kini justru menuai kekecewaan mendalam. Sejumlah pelanggan mengaku dirugikan akibat layanan yang tidak maksimal, bahkan cenderung mengabaikan hak-hak pengguna. Masalah ini semakin mencuat sejak gangguan jaringan besar-besaran pada bulan Agustus lalu, yang membuat akses internet lumpuh total di beberapa wilayah. 

Saat itu, pihak Wifikita berdalih terjadi “gangguan pusat”, dan menjanjikan kompensasi kepada pelanggan. Namun, janji tinggal janji—kompensasi yang dijanjikan hanya menjadi pemanis belaka tanpa realisasi jelas.

Keluhan paling mencolok datang dari wilayah Dusun Jannaya, Desa Manjapai, di mana jalur jaringan kerap terganggu hingga berhari-hari. “Kadang-kadang, sinyalnya mati total. Kami bayar rutin, tapi layanannya tidak rutin,” ujar salah satu pelanggan yang enggan disebutkan namanya. Keluhan ini tidak berdiri sendiri. 

Warga di beberapa dusun lain juga mengaku frustrasi karena tidak tahu harus mengadu ke mana ketika layanan terganggu. Kontak resmi Wifikita pun disebut sering tidak aktif saat dibutuhkan.

Lebih dari sekadar gangguan teknis, warga juga menyoroti cara pemasangan jaringan yang ugal-ugalan. Beberapa tiang jaringan ditanam begitu saja di lahan milik warga tanpa izin, apalagi kompensasi. Padahal, secara hukum, pemasangan fasilitas umum di atas lahan pribadi harus melalui proses perizinan dan persetujuan yang sah. 

“Tiba-tiba sudah ada tiang di kebun saya, tidak ada pamit, tidak ada apa. Ini melanggar aturan,” keluh seorang pemilik lahan yang kini merasa tanahnya dirampas secara halus.

Wifikita yang selama ini dipromosikan sebagai penyambung kebutuhan digital pedesaan, justru dianggap memutus kepercayaan masyarakat terhadap layanan internet lokal. 

Alih-alih memberdayakan desa, tindakan semena-mena ini dikhawatirkan membuka potensi konflik sosial di tingkat warga. “Kami butuh internet, tapi juga butuh dihargai sebagai pelanggan dan pemilik lahan,” tegas warga lainnya.

Saat kepercayaan publik mulai goyah, Wifikita perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan, komunikasi pelanggan, hingga etika dalam pemasangan infrastruktur. Jika tidak, bukan tidak mungkin “jaringan rakyat” ini justru akan ditinggalkan rakyatnya sendiri.

Redaksi : www.cakarelang.id

Editor     : Arsyad Sijaya