♥️🇮🇩♥️👇👇👇

Cakar Elang.id – Opini Publik,
Di tengah gegap gempita pesta kebijakan dan parade janji pembangunan, masih ada suara yang tertinggal di pinggir jalan — suara rakyat. Mereka bukan sekadar angka dalam grafik pertumbuhan, bukan pula daftar penerima bantuan yang diserahkan dengan senyum kamera.
Mereka adalah denyut yang menjaga negeri tetap berdiri, meski sering kali tak pernah didengar. Rakyat masih di sini.
Mereka menahan lapar dengan sabar, menahan marah dengan iman. Tapi sabar bukan berarti diam. Di balik janji yang berulang, mereka mulai mengerti: bahwa keadilan kadang kalah oleh persekongkolan, dan kepedulian terkubur oleh pesta jabatan.
“Jangan jadikan istana tempat berpesta, sementara rakyatnya berperang melawan harga dan kelaparan,” begitu bunyi seruan nurani yang kini bergaung di tengah sunyi. Rakyat tidak meminta banyak — mereka hanya ingin kebijakan yang berpihak, bukan pidato yang menghibur. Mereka ingin pemimpin yang berani jujur, bukan pandai bersandiwara.
Kami rakyat, katanya lagi, bukan masyarakat kecil.
Yang kecil adalah hati mereka yang memperkecil nurani.
Yang lemah bukan kami, tapi moral yang dilumpuhkan oleh kenyamanan kekuasaan.
Rasulullah : bersabda: “Setiap pemimpin adalah penggembala, dan setiap gembala akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.”
Tapi kini, banyak gembala menjual dombanya, demi gengsi, demi kepentingan, demi singgasana yang tak abadi.
Rakyat masih di sini — di bawah langit yang sama, menatap masa depan yang tak pasti. Mereka menulis dengan luka, berdoa dengan air mata, dan berharap: masih ada pemimpin yang lebih takut kehilangan ridha Allah, daripada kehilangan jabatan.
Dan bila pemerintah terus tak menoleh, maka sejarah yang akan menoleh pada mereka —
dengan pena yang tajam, dan ingatan yang tak bisa dibungkam. Walau kehadiran kami tak pernah dianggap ada, tapi kami selalu hadir di setiap nafas persekongkolan dan penyalahgunaan wewenang, terkadang kami hadir sebagai angin Sepoi Sepoi tapi kami juga bisa menjadi badai.
Karya : Arsyad Sijaya