
Cakar Elang.id ~ Jeneponto ~ Nasib pilu menimpa seorang guru honorer di SDN 7 Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Setelah empat tahun setia mengajar dan memegang kelas sesuai latar belakang PGSD, ia justru harus menelan pahit perlakuan yang dinilai tidak manusiawi. Guru tersebut tiba-tiba dipindahkan mengajar Bahasa Inggris, bidang yang jelas tidak sesuai kompetensinya, diduga karena posisinya hendak digantikan oleh adik kandung kepala sekolah yang mendadak lolos PPPK Paruh Waktu.
Ironisnya, sosok adik kandung kepala sekolah itu disebut-sebut lama tidak aktif mengajar, bahkan nyaris tak terlihat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Namun secara mengejutkan, ia muncul kembali dengan status baru sebagai PPPK, sementara guru honorer yang telah berjuang bertahun-tahun justru tersingkir perlahan. Dugaan nepotisme dan penyalahgunaan kewenangan pun menguat di tengah guru-guru lain yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Ketegangan memuncak saat rapat dewan guru. Guru honorer itu menyampaikan protes dengan nada kecewa, mempertanyakan keputusan sepihak tersebut. “Kenapa seenaknya diganti? Kalau aktif dari dulu tidak apa-apa, ini mendadak menggantikan saya,” ucapnya, sebagaimana dituturkan sumber yang hadir dalam rapat. Protes itu bukan tanpa alasan—empat tahun pengabdian seolah tak bernilai sama sekali.
Alih-alih mendapat penjelasan yang adil, guru honorer itu justru mendapat perlakuan yang menyayat hati. Kepala sekolah diduga menjawab dengan nada tinggi dan sikap arogan, berdalih sebagai pimpinan yang “tak bisa melawan aturan”. Situasi memanas ketika kepala sekolah disebut memukul meja dan membentak, “Kau kurang ajar! Kau honor, bisa saya keluarkan sekarang!” sebelum meninggalkan ruangan. Ucapan itu sontak membuat suasana rapat membeku.
Peristiwa ini menuai keprihatinan mendalam. Banyak pihak menilai, jika benar terjadi, tindakan tersebut mencederai rasa keadilan, etika kepemimpinan, dan martabat guru honorer yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di pelosok. Publik kini menunggu sikap Bupati, Dinas Pendidikan dan instansi berwenang untuk turun tangan, mengusut dugaan nepotisme dan arogansi kekuasaan ini. Jangan sampai guru yang setia justru disingkirkan, sementara yang “punya orang dalam” melenggang mulus. Kasihan kodong🥺
Editor : Arsyad sijaya