Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,BUMNInternasionalKa-Polri, Humas PolriKemenkeuKementanKementerian AgamaKesehatanKriminalMenkumham

Kesabaran Mati Kemacetan Mengular Panjang Ketika Ego Mengemudi, Jalan Raya Jadi Neraka Kemacetan

21
Doc.

Cakar Elang.id ~ gowa ~ Kemacetan panjang kembali menghantui sejumlah ruas jalan raya, bukan semata karena kerusakan jalan atau volume kendaraan, melainkan akibat ulah pengguna jalan yang seolah “buta hati” dan kehilangan kesabaran. Keinginan untuk menang sendiri, saling serobot, hingga memaksakan kendaraan melawan arus justru memperparah keadaan dan menjadikan jalan raya sebagai panggung egoisme massal.

Pemandangan ini kerap terlihat saat arus lalu lintas mulai padat. Alih-alih saling memberi ruang, sebagian pengendara justru mempersempit jalan dengan berhenti sembarangan, mengambil jalur lawan, atau memaksakan putar balik di titik terlarang. Akibatnya, arus kendaraan terhenti total, kemacetan mengular panjang, dan ribuan pengguna jalan lain harus menelan kesal tanpa salah apa pun.

Lebih miris lagi, dampak kemacetan ini tidak mengenal siapa korbannya. Pekerja terlambat ke kantor, pedagang kehilangan waktu berjualan, hingga warga yang membawa keluarga sakit terjebak berjam-jam di tengah panas dan kebisingan. Semua dirugikan hanya karena segelintir orang yang tak mau bersabar beberapa detik demi kepentingan bersama.

Ironisnya, kondisi tersebut sering kali disaksikan tanpa rasa bersalah. Klakson bersahut-sahutan, emosi meninggi, bahkan tak jarang berujung adu mulut di tengah jalan. Jalan raya yang seharusnya menjadi sarana bersama berubah menjadi ruang konflik akibat hilangnya empati dan kesadaran berlalu lintas.

Peristiwa ini menjadi cermin pahit bahwa kemacetan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi soal sikap dan mentalitas. Tanpa kesabaran dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan, kemacetan akan terus berulang dan merugikan banyak orang. Sudah saatnya setiap pengendara membuka mata dan hati, karena sedikit mengalah di jalan raya bisa menyelamatkan waktu dan ketenangan banyak orang.

Editor : Arsyad Sijaya