
Cakar Elang.id ~ Kegiatan pemilihan “Top Up Remaja, Top Up Cilik dan Dara Daeng” yang digelar pada tanggal 8 Februari 2026 di Gedung Islamic Center awalnya diharapkan menjadi ajang pembinaan generasi muda Kabupaten Takalar. Acara tersebut digadang-gadang sebagai wadah mencari bakat, kepercayaan diri, dan kreativitas anak-anak daerah. Namun sayangnya, suasana meriah yang seharusnya penuh kebanggaan justru berubah menjadi perbincangan miris di kalangan masyarakat .09/02/2026
Sejumlah peserta dan orang tua mulai menyuarakan kekecewaan setelah hasil pengumuman pemenang dianggap tidak sesuai harapan. Banyak yang menilai bahwa proses penilaian juri tidak berjalan objektif. Harapan agar kegiatan ini benar-benar murni mencari talenta terbaik seakan sirna karena muncul dugaan kuat adanya “permainan orang dalam” yang membuat kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan acara menjadi goyah.
Padahal sebelum acara dimulai, beredar pesan bahwa Ibu Bupati dan Ibu Wakil Bupati telah berpesan agar tidak ada praktik nepotisme dalam ajang tersebut. Mereka mengingatkan panitia dan dewan juri untuk menjunjung tinggi kejujuran demi menjaga nama baik Kabupaten Takalar. Pesan moral itu diharapkan menjadi pegangan bersama, namun kenyataannya banyak pihak merasa bahwa imbauan tersebut tidak benar-benar didengar.
Kekecewaan semakin memuncak ketika muncul kabar bahwa ada peserta yang memiliki kedekatan dengan pihak tertentu justru memborong gelar juara. Masyarakat mempertanyakan bagaimana mungkin beberapa anak dari lingkungan yang sama bisa meraih kemenangan sekaligus, sementara peserta lain yang dinilai lebih layak justru tersisih. Kondisi ini membuat publik bertanya-tanya, apakah ajang tersebut benar-benar kompetisi terbuka atau hanya formalitas belaka.
Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi dunia kegiatan anak dan remaja di Takalar. Banyak pihak berharap ke depan setiap kegiatan serupa dapat dilaksanakan lebih transparan, jujur, dan profesional. Jangan sampai semangat anak-anak yang ingin berprestasi justru padam karena kecurigaan dan ketidakadilan. Ajang pencarian bakat seharusnya menjadi ruang membangun karakter, bukan meninggalkan luka kekecewaan di hati generasi muda.
Editor : Arsyad Sijaya