Berita Nasional, Politik, Pendidikan, Olah Raga,BUMNKemenkeuKriminalOlahragaOtomotifPolitikPolri

Rehab atau Bangunan Baru Mushollah Rp300 Juta di DPRD Takalar,  X Sekwan Diduga Main Proyek Sendiri — Tempat Ibadah di Jadikan Ladang Uang?

19
Doc.

Cakar Elang.id ~ Takalar — Bau tak sedap kembali menyeruak dari gedung wakil rakyat di Kabupaten Takalar. Proyek rehabilitasi mushollah DPRD Takalar yang menelan anggaran Rp300 juta kini menjadi sorotan tajam publik. Bukan karena hasilnya memukau, tapi karena kabar bahwa proyek itu dikendalikan langsung oleh Sekretaris Dewan (Sekwan) sendiri. 

Sebuah ironi, ketika pejabat yang seharusnya mengurus administrasi justru “turun gelanggang” mengurus proyek.

Alih-alih memberi ketenangan rohani, proyek ini justru menimbulkan kegelisahan hati. Di lapangan, rehab mushollah yang ukurannya tak seberapa, malah menghabiskan biaya fantastis hingga ratusan juta rupiah. Pekerjaan dilakukan senyap, papan proyek nyaris tak terlihat, dan aroma kedekatan personal dengan rekanan kian mencuat. Publik pun menilai, rehab mushollah ini bukan lagi soal tempat ibadah, tapi proyek berjubah suci.

“Kalau mushollah sebesar itu direhab sampai Rp300 juta, apakah dindingnya dilapisi emas? Atau sajadahnya dari sutra?” sindir seorang aktivis muda Takalar yang geram melihat praktik semacam ini. Ia menambahkan, “Uang rakyat harusnya dipakai untuk rakyat, bukan untuk mempercantik halaman dewan sambil mempertebal kantong oknum pejabatnya.”

Mirisnya lagi, lembaga DPRD yang mestinya menjadi simbol moralitas dan pengawasan, justru terlihat diam seribu bahasa. Tak ada suara lantang dari anggota dewan untuk menyoal proyek yang mencurigakan ini. Publik pun makin yakin, sistem di dalam gedung wakil rakyat itu sedang sakit—dan yang menjadi obatnya justru ikut menularkan penyakit.

Kini masyarakat menuntut inspektorat dan aparat penegak hukum turun tangan. Anggaran Rp300 juta bukan angka kecil bagi rakyat kecil Takalar. Jika benar proyek mushollah ini dijadikan bancakan, maka yang ternoda bukan hanya dinding mushollah, tapi juga marwah para pejabat yang seharusnya menjadi teladan. Di Takalar, rupanya aroma suci pun bisa ditukar. (Herniati) Bers-

Editor : Arsyad Sijaya