
Cakar Elang.id ~ Gowa ~ Kaluarrang, Desa Manjapai, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa—kampung yang selama ini dikenal indah, elok, dan bahkan melahirkan tiga pejabat negara, kini tercoreng oleh perilaku sebagian warganya sendiri. Alih-alih menjaga marwah lingkungan dan warisan nama baik kampung, praktik pembuangan sampah sembarangan justru menjadikan sudut-sudut wilayah ini seperti tempat pembuangan akhir tak resmi. Pemandangan memprihatinkan itu memantik kritik pedas dari warga sekitar dan pengguna jalan.
Seorang pengendara motor yang meminta namanya tidak dituliskan mengaku pernah memergoki langsung aksi pembuangan sampah tersebut. Ia menuturkan, saat melintas, ia melihat seorang warga keluar dari lorong samping rumah panggung milik seorang pejabat negara dengan mengendarai motor jenis NMAX. “Saya buntuti. Begitu sampai di lokasi, saya teriak, ternyata kamu yang sering buang sampah di sini,” ungkapnya dengan nada kesal.
Alih-alih berhenti dan bertanggung jawab, pemotor tersebut justru melarikan diri ke arah Kampung Cilallang. Namun, menurut saksi, tidak lama kemudian orang yang sama kembali muncul dengan membawa karung berisi sampah. “Saya ikuti lagi, dan benar saja, ia berbelok ke samping rumah panggung beliau,” ujarnya. Peristiwa itu, kata dia, bukan kejadian tunggal, melainkan pola yang berulang.
Ironisnya, tindakan tak terpuji itu terjadi di kawasan yang seharusnya menjadi etalase etika dan keteladanan. Lingkungan yang mestinya dirawat sebagai simbol kebanggaan justru dijadikan korban kelalaian dan pembiaran. Kritik pun mengarah pada rendahnya kesadaran kolektif serta lemahnya kontrol sosial—bahkan di sekitar rumah tokoh yang seharusnya menjadi rujukan moral.
Warga berharap aparat desa dan pihak terkait tidak menutup mata. Penegakan aturan kebersihan, edukasi lingkungan, serta pengawasan yang tegas dinilai mendesak agar Kaluarrang kembali pada jati dirinya sebagai kampung yang bersih, bermartabat, dan pantas dibanggakan. Tanpa langkah nyata, keindahan hanya akan tinggal cerita, sementara sampah menjadi saksi bisu kemunduran sikap warganya sendiri.
Editor : Arsyad Sijaya